Freitag, 25. Januar 2008

Kebahagiaan vs Bersyukur

Kemarin saya terusik dengan pertanyaan guru les saya.

Frau Hennig : "Wann bist du gluecklich?"

Untuk sesaat saya diam, mungkin memasang wajah aneh. Saya berpikir bukan kapan saya merasa bahagia, justru sebaliknya saya berpikir, kapan saya merasa tidak bahagia. Rasanya tidak ada celah sedikitpun untuk saya tidak merasa bahagia.

Ok. Bukan berarti saya tidak pernah sedih atau menangis. Sering malah saya menangis. Akan tetapi saya tahu, dibalik tangis saya yang sepele-sepele itu, saya merasa jauh lebih berbahagia dengan segala hal yang saya miliki. Keluarga, teman-teman, kehidupan saya, pacar, dan diri saya sendiri.


Beberapa tahun yang lalu, pernah ada teman yang mengirimkan pesan:
Kebahagiaan adalah seni untuk mensyukuri cobaan dan pelajaran dari Tuhan.

Ada juga yang mengatakan kalau kebahagiaan akan kita dapatkan apabila kita bersyukur.

Yang sekarang terlintas di pikiran saya adalah bahwa saya, alhamdulillah, selalu merasa bahagia, tetapi saya juga sering merasa bahwa saya sering tidak bersyukur dengan apa yang saya punya.

Jadi kontradiktif kan?

1 Kommentare:

ismailalanshori hat gesagt…

surga itu diciptakan hanya untuk 2 orang,,
pertama, untuk orang yang sabar..
kedua, untuk orang yang bersyukur..

- dari hadis (gw jg lupa riwayat siapa, hehe)-